RSS
Showing posts with label Uang. Show all posts
Showing posts with label Uang. Show all posts

Limbah Kayu Jadi Puzzle Penghasil Laba



Tak semua mainan anak bersifat mendidik. Orang tua memang harus selektif memilih mainan yang tepat bagi si buah hati. Berbekal hal ini, Jumadi menciptakan puzzle sebagai mainan perangsang otak si kecil. Tak disangka, mainan ini laris sampai luar negeri.

Bisnis yang berkaitan dengan kebutuhan anak, termasuk mainan anak, jelas merupakan bisnis menjanjikan. Selama manusia masih berkembang biak di muka bumi ini, maka bisnis yang menyasar anak-anak sebagai konsumen tak akan pernah kehilangan pembeli. Sudah begitu, setiap anak pasti membutuhkan mainan.

Biasanya para orang tua tak keberatan keluar duit untuk membelikan mainan untuk sang buah hati. Bahkan, ayah bunda rela keluar duit banyak jika mainan tersebut bisa merangsang kecerdasan si kecil. Masalahnya, bukan perkara mudah mencari mainan anak yang mendidik. Beberapa jenis mainan malah membuat anak semakin konsumtif.

Bagi Jumadi, seorang pengusaha asal Bantul, Yogyakarta, kondisi tersebut adalah sebuah peluang bisnis. Dia pun membuat mainan puzzle sebagai salah satu mainan alternatif bagi anak. Tak disangka, puzzle berbahan kayu jati buatannya laris manis. Jumadi pun bisa meraup omzet ratusan juta rupiah saban bulannya.

Awalnya, Jumadi merupakan pengusaha mainan anak-anak dan barang rumah tangga dari tempurung kelapa. Waktu itu masih tahun 1991 dan umur Jumadi baru menginjak 36 tahun. Sayang, bisnis kerajinan tempurung kelapa Jumadi kurang berkembang.

Ia pun mencari peluang bisnis lain. Tapi lagi-lagi dia tertambat pada bisnis mainan anak. Muasalnya, tahun 1994 ia bertemu dengan Puji Santoso, yang ternyata gemar menciptakan puzzle kayu berbentuk bola. Darah bisnis Jumadi langsung berdenyut kencang melihat ide bisnis tersebut. Ia pun mengajak rekannya bergabung dalam perusahannya yang dinamakan Jatisae Handicraft.

Seiring berjalannya waktu, Jumadi ikut menciptakan kreasi berbagai puzzle. “Modalnya adalah ketekunan dan pantang menyerah untuk terus mencoba menciptakan model puzzle baru,” ujarnya.

Puzzle buatan Jumadi memang unik. Ada yang berbentuk bola, kubus, silinder, dan sebagainya. Semuanya terbuat dari bahan baku kayu limbah pabrik mebel di Semarang. “Setiap bulan saya butuh lima truk limbah kayu. Harga per truknya Rp 5 juta,” ujarnya.

Merambah alat musik

Di bengkel kerjanya, Jumadi dibantu 30 karyawan mengolah limbah kayu menjadi puzzle. “Ada sebelas tahapan membuatnya,” ujar Jumadi. Ada tahap pemotongan, pencetakan, pengamplasan, sampai tahap memperhalus serat kayu.

Saat ini Jumadi bisa membuat 156 jenis puzzle dengan kapasitas produksi 33.000 unit per bulan. Seluruh produksinya itu habis terjual. Harga puzzle-nya beragam mulai dari Rp 3.000 hingga Rp 150.000 per unit, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan membuatnya. “Omzet saya per bulan sekitar Rp 100 juta,” katanya. Dari omzet segitu, Jumadi mengaku menikmati margin sekitar 30 persen-35 persen.

Usaha puzzle milik Jumadi perlahan tapi pasti terus berkembang. Salah satu kiatnya, ia rajin mengikuti pameran dan festival di Jakarta maupun di kampung halamannya, Yogyakarta. Dengan cara ini, ia kerap mendapatkan pembeli dari luar kota dan luar negeri. Antara lain dari Bali, Surabaya, serta Singapura, Prancis, dan Malaysia. “Kebanyakan, pembeli dari Bali-lah yang menyalurkan puzzle saya ke negara-negara tersebut,” ujarnya kalem.

Sejak 2001, Jumadi berinovasi dengan membuat alat musik, seperti jimbe, gendang, dan alat musik suku aborigin, didgeridoo. “Bahan bakunya dari kayu mahoni di Blitar,” ujarnya. Dalam sebulan, alat musik bikinannya menyumbang omzet Rp 75 juta. “Purwacaraka juga kerap membeli alat musik dari saya,” pungkasnya ceria.
0 comments

Posted in , ,

Omzet Bengkel Syamsu pun Naik 4 Kali Lipat




Awalnya September 1999, Noor Syamsu Zauhar mendirikan Riser Service, sebuah bengkel dinamo dengan 1 karyawan di daerah Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan. Meski demikian, di bengkel yang berukuran 4 x 6 itu, Syamsu kerap menerima orderan dari perusahaan-perusahaan di wilayah itu.

Lazimnya para entrepeuneur kecil, keinginan Syamsu untuk untuk mengembangkan usahanya terkendala oleh faktor dana. Padahal dari potensi yang ada, ia yakin bisa meraup omzet yang lebih besar.

Keberuntungan ternyata tidak jauh dari Syamsu. Adalah Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) bentukan tim CSR Adaro, yang melihat potensi dari bengkel yang awalnya hanya beromzet Rp 5-6 juta perbulan itu. Melalui Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Banua Bauntung yang dibentuk tim CSR Adaro, tahun 2006 Syamsu mendapatkan kucuran pinjaman lunak sebesar Rp 100 juta.

Begitu mendapatkan modal tersebut, Syamsu langsung menggunakannya untuk membangun bengkel baru di lokasi yang lebih strategis serta untuk menambah modal usaha.

Selain modal, LPB juga memberikan pelatihan untuk meningkatkan kualitas karyawan di bengkel milik Syamsu. Pelatihan yang diberikan diantaranya pelatihan administrasi sederhana dan studi banding ke dealer sepeda motor mitra LPB dan ke salah satu pabrik otomotif ternama.
Dengan lokasi yang baru dan keterampilan karyawan yang meningkat, omzet bengkel Syamsu kini naik 4 kali lipat, kini ia meraup omzet rata-rata Rp 20 juta per bulan.

Bahkan Syamsu kini memiliki 1 cabang bengkel dinamo di Tamiang Layang Kabupaten Barito Timur Kalimantan Tengah. Jumlah karyawan yang awalnya hanya 1 orang pun bertambah menjadi 7 orang.

LPB sendiri melakukan pembinaan terhadap usaha mikro kecil dan menengah yang ada di wilayah operasional Adaro yaitu di Kabupaten Tabalong dan Balangan. Salah satu sektor usaha yang dibina adalah usaha perbengkelan sepeda motor dan perbaikan dinamo. LPB menilai usaha ini mempunyai prospek yang cerah karena sejalan dengan kebutuhan masyarakat di transportasi. Pembinaan yang diberikan kepada UKM bengkel antara lain pelatihan. Pelatihan ini mencakup aspek teknis untuk mengembangkan keahlian mereka sesuai perkembangan teknologi, dan aspek non teknis yaitu perbaikan terhadap manajemen dan bagaimana menumbuhkan etos kewirausahaan UKM dalam bisnis perbengkelan.

0 comments

Posted in , ,

Menikmati Legitnya Laba Martabak Sarang Semut




Rasanya sudah tak asing mencicipi martabak di lidah kita. Bundar, kecoklatan, dan rasanya yang legit menjadi ciri khas dari jajanan pasar ini. Jenisnya pun bermacam-macam tergantung variasi penjualnya, seperti martabak Bangka, martabak Bandung, bahkan martabak telur.

Satu lagi jenis martabak yang begitu unik hadir saat berlangsungnya pameran makanan Bogasari Expo 2009, yang berlangsung pada 20-22 November 2009, di Lapangan Aldiron , Pancoran, Jakarta. Dari berbaagai stand makanan yang hadir dalam pameran tersebut, Martabak Sarang Semut selalu ‘dikerubuni’ oleh para pengunjung.

Karena penasaran, Kompas.com mencoba mengunjungi stand tersebut. Meski sibuk membuat martabak, Cecep, salah satu pencetus ide Martabak Sarang Semut ini, bersedia untuk diwawancara. Cecep mengisahkan, awalnya ia dan para kawannya yang tergabung dalam IKKI Group mencari ide kreasi baru. Maklum, semuanya berkecimpung dalam dunia masak.

Pada Januari 2009, Martabak Sarang Semut diperjualbelikan. Dinamakan Sarang semut, ucap Cecep, karena saat memanggang adonannya berbentuk seperti sarang. Dengan 3 variasi rasa, yaitu martabak manis, martabak asin, dan martabak brownies, jajanan pasar ini begitu laris di pasaran.

“Awalnya, kami kesulitan untuk membuat martabak ini beda dari yang lain. Setelah melakukan berbagai uji coba, akhirnya kami berhasil menemukan inovasi baru, yaitu martabak tanpa ragi tapi lembut. Orang lain menggunakan ragi pada martabaknya, tapi kami tidak” jelas Cecep dalam pameran Bogasari Expo, Sabtu (21/11).

Di samping lembut, ia menjamin martabak Sarang Semut lebih sehat dari martabak lainnya. Selain tanpa ragi, gula yang digunakan sedikit. Untuk satu kilo gula saja, jelasnya, baru habis untuk 40 buah martabak, sehingga orang diabetes pun masih dapat menikmati martabak ini. “Martabaknya enak, mbak, beda dengan yang lainnya. Encer tapi lembut..., “ ucap salah satu pelanggan yang setia menunggu pesanannya.

Cecep mengaku, jajanan ini begitu laris manis. Selama 10 bulan, martabak hasil temuan IKKI Group ini telah menyebar ke seluruh propinsi (kecuali Medan dan Aceh) di Indonesia dengan 300 cabang. Di Jakarta sendiri sudah ada 20 cabang, yang kebanyakan terdapat di mal-mal. Di samping itu, martabak ini juga diekspor hingga ke pasar internasional, seperti Cina, Vietnam, dan Singapura.

Menurutnya, sistem pemasaran mulai dilakukan dari pameran ke pameran, seperti Bogasari Expo. Melihat bisnis ini laku di pasaran, IKKI Group mulai melakukan franchise seharga Rp. 18.000.000 dan hanya men-stock adonannya.

Sebanyak dua puluh kilogram adonan dapat habis dalam sehari. Sementara dalam sebulan dapat menghabiskan sekitar 2 ton itu. Satu kilo sendiri sama dengan 22 martabak. Harganya pun berbeda tergantung dari jenis dan variasinya,mulai Rp. 5.000 hingga Rp. 8.000.

Kenapa martabak? Meski banyak di pasaran, jajanan ini ujarnya, selalu ada pembeli. Pembelinya juga tak terbatas pada umur dan kalangan tertentu, sehingga siapa pun dapat membelinya. “ Martabak juga bisnis long lasting, kami tak mau bermain-main dan tak sekedar mencoba saja,” tambah Cecep.

Selain unik, ia menceritakan rahasia agar adonannya tetap lembut. “Kami selalu mengutamakan kualitas, rasa, dan teksturnya,” ucap Cecep. Untuk mendapatkan kualitas adonan yang bagus, ia tak mau menggunakan sembarang tepung. Untuk itu, ia menggunakan tepung terigu Bogasari. “Kami sudah menjadi mitra Bogasari sejak awal berbisnis,” ujarnya.

“Tak takut dengan persaingan, Pak?” tanya Kompas.com. Banyak yang mencoba mengikuti usaha martabak ini, ujarnya,namun di tengah jalan, tak jarang dari mereka yang berhenti. Menurutnya, ia sangat terbuka dengan persaingan yang ada. “Itu yang kami tunggu, jadi orang bisa melihat martabak siapa yang terbaik,” tegas Cecep dengan semangat.

Begitu banyaknya pembeli yang terus berdatangan, membuat semakin penasaran mencoba martabak Sarang Semut. Kompas.com memesan martabak Brownies coklat kacang dan Brownies coklat keju seharga Rp. 5.000 per buah. Mmmm... ternyata memang lembut dan enak. Sekali gigit, jadi ketagihan deh...

0 comments

Posted in , ,

Petani Plasma



Ratidjo memutuskan berhenti sebagai karyawan PT Tuwuh Agung Yogyakarta yang bergerak di bidang ekspor jamur merang ke Amerika tahun 1997. Ia ingin sepenuhnya dekat dengan petani sebagai penyedia bibit. Ratidjo paham benar, jika keadaan petani tidak membaik, terutama dari sisi pemasaran hasil produksi jamur, maka usaha pembibitan yang ia rintis tidak akan berjalan baik.

Sejak itulah lelaki asli Dusun Niron, Pendowoharjo, Sleman, Yogyakarta, ini berniat membuka rumah makan yang khusus menyediakan menu olahan jamur. ”Saya hanya ingin menyerap produksi jamur petani yang waktu itu sudah mencapai hitungan ton setiap hari,” tutur Ratidjo pada awal November 2009 di sela-sela padatnya pengunjung Warung Jejamuran miliknya.

Ide itulah yang menuntun Ratidjo membentuk plasma petani jamur di sekitar wilayah Sleman, terutama sekitar lereng selatan Gunung Merapi. Untuk menyediakan kecukupan bibit, di rumahnya Ratidjo membangun laboratorium untuk pengembangan dan pembibitan jamur.

Kini rumah makan dan laboratorium di atas tanah seluas 2.000 meter persegi itu telah mempekerjakan 110 karyawan. Bahkan, hasil bibit jamur Ratidjo sudah didistribusikan ke seluruh Indonesia. Pencapaian terpenting lelaki yang terjun dalam dunia perjamuran sejak tahun 1968 ini adalah membentuk 50 plasma petani jamur.

”Sekarang seperti manufaktur, saya sediakan bibit, lalu petani membudidayakan, dan saya beli lagi untuk konsumsi lokal di warung. Jadi, kalau budidaya jamur terus bergairah, usaha pembibitan saya akan tetap jalan,” tutur Ratidjo.

Setelah adanya Warung Jejamuran, harga jamur di tingkat petani meningkat. Jika sebelumnya harga jamur tiram Rp 7.000 per kilogram, sekarang Ratidjo membelinya dari petani Rp 9.000 per kilogram. Dulu harga jamur merang Rp 12.000 per kilogram, kini dibeli seharga Rp 17.000 per kilogram. Jika toh terjadi kelebihan produksi, Ratidjo tetap menyerapnya untuk dijadikan olahan jamur kering atau disalurkan kepada pasar swalayan.

Warung Jejamuran yang berlokasi 800 meter ke arah utara dari pertigaan Beran Lor Km 10,5 Jalan Raya Yogyakarta-Magelang itu kini menjelma menjadi ujung tombak pemasaran produksi jamur petani. Setidaknya, dengan sistem kerja sama plasma, petani jamur tak perlu lagi merasa didikte oleh pasar. Ratidjo sejak awal memang bertekad membawa petani keluar dari lingkaran kemiskinan dengan cara membagi ilmu budidaya jamur. Sebuah upaya kecil, tetapi pasti akan sangat berarti di tengah gelimang kesulitan yang terus-menerus menerpa petani kita.

0 comments

Posted in , ,

Dukung Kegairahan Kaum Muda



Inovasi dan kemampuan menciptakan sesuatu yang baru menjadi kunci sukses menghadapi persaingan dan perubahan global. Oleh karena itu, keinginan dan kegairahan kaum muda di Asia Tenggara untuk berinovasi di segala bidang harus terus dikembangkan dan didukung.

Demikian salah satu kesimpulan Grand Master Catur Garry Kasparov, Milyuner AS Donald Trump, Pemusik Sir Bob Geldof, dan Direktur Pemasaran Fabebok Randi Zuckerberg pada Youth Engagement Summit (YES) 2009 di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (17/11). Kegiatan ini diikuti lebih dari 1.000 kaum muda dari Malaysia, Singapura, Indonesia, Thailand, Filipina, Vietnam, Laos, dan Brunei.

Menurut Kasparov, setiap orang seharusnya tidak berhenti belajar dan berubah dalam menghadapi perubahan dan tantangan global dengan terus berinovasi di segala bidang.

”Tentu inovasi harus dilakukan dengan menghargai dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan serta untuk menciptakan kondisi dunia yang lebih baik,” katanya.

Setiap orang, kata Kasparov, punya kesempatan yang sama untuk menjadi orang hebat. ”Yang penting kita mau memperbaiki kelemahan,” ujarnya.

Inovasi, menurut Randi Zuckerberg, juga kunci penting bagi pengembangan jejaring sosial Facebook. ”Inovasi dalam bisnis ataupun bidang apa saja harus disesuaikan dengan kebutuhan manusia saat itu,” ujarnya.

Melalui telekonferensi, pengusaha Donald Trump dari New York, AS, menjelaskan, selain kreatif dan bekerja keras, kaum muda harus sungguh-sungguh mencintai kegiatan dan pekerjaannya.

Fokus pada apa yang dikerjakan dan memiliki disiplin yang tinggi. Selain itu, Trump mengingatkan agar dalam menjalankan bisnis atau pekerjaan, kaum muda harus percaya dan mengikuti instingnya. ”Setiap orang memiliki insting yang baik,” ujarnya.

Adapun Bob Geldof menyarankan agar kaum muda tidak takut menyuarakan ide dan hak mereka, sekalipun harus berhadapan dengan penguasa. ”Kondisi di Asia jauh lebih baik di banding di Afrika. Kondisi ini harus dimanfaatkan kaum muda Asia untuk menuangkan ide dan berkarya menghadapi tantangan global,” kata Geldof.

Vice President Industrial Relations merangkap Pjs Senior General Manager Community Development Center PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Wien Aswantoro Waluyo menegaskan, Telkom mendukung kaum muda Indonesia berinovasi dan menciptakan produk kreatif.

Kesempurnaan Finansial



Kemandirian finansial adalah kondisi yang memberikan rasa aman dari persoalan keuangan. Tingkatan yang lebih tinggi dari kemandirian finansial adalah kesempurnaan finansial.

Setidaknya, ada empat anak tangga yang mesti dilalui menuju puncak kemandirian finansial. Pertama, membebaskan logika dari pengaruh perasaan ketika mengambil keputusan di bidang keuangan. Kedua, memiliki penghasilan yang lebih besar daripada pengeluaran yang paling mendasar. Ketiga, kemampuan merencanakan keuangan dan mengimplementasikannya. Keempat, terbebas dari kebutuhan keuangan untuk membiayai hidup di saat tidak produktif lagi.

Apakah setelah keempat anak tangga tersebut berhasil dicapai, pasti akan memberikan rasa bahagia? Belum tentu. Kemandirian finansial baru sekadar kondisi yang memberikan rasa aman dari persoalan keuangan. Sedangkan rasa bahagia, kepuasan hidup, tidak semata-mata soal uang. Namun, pola pengelolaan uang itu sendiri sebenarnya memberikan pengaruh juga terhadap rasa puas dalam menjalani hidup.

Makna yang paling dasar dari uang adalah sebagai alat tukar, untuk kemudian seseorang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Uang dan harta yang banyak adalah tujuan keuangan untuk mencapai tujuan hidup. Dan, itu bisa dicapai oleh siapa saja. Tetapi, banyak orang lupa bagaimana proses mencapainya.

Hasil yang baik mestinya dicapai berdasarkan proses yang baik. Ringkasnya, kemandirian finansial hanya akan berhenti pada tahap tersebut jika proses mencapai kemandirian itu tidak dilakukan dengan kaidah-kaidah yang semestinya. Artinya, jika proses menuju kemandirian finansial itu tidak dilakukan dengan cara yang membikin rasa aman, besar kemungkinan kemandirian finansial tersebut akan bersifat artifisial. Tidak hakiki.

Jangankan untuk mencapai tahap kesempurnaan finansial, bahkan mempertahankan kemandirian finansial sekalipun akan menjadi problema besar. Ini seperti kata pepatah, ”Dari zero kembali ke zero”. Ketika muda, seseorang bekerja keras dengan segala cara mencari uang, tetapi setelah tua, harta yang diperoleh akan habis dipakai untuk menyelesaikan segala problema yang dibuat ketika mencari harta.

Kalau situasinya seperti ini, kemandirian finansial yang diraih sebenarnya bersifat semu. Sebab, kemandirian finansial adalah ketika uang sudah tidak diperlukan lagi, sampai akhir hayat. Bukan cuma kondisi sesaat.

Prinsip

Lantas, bagaimana cara untuk bisa mencapai kesempurnaan finansial? Tidak sulit. Hanya dua prinsip. Pertama, proses menuju kemandirian finansial mesti dilakukan dengan cara dan kaidah yang layak. Sebutlah pada anak tangga yang pertama, dalam hal mendudukkan logika di atas perasaan. Ini merupakan proses yang tiada henti. Dalam semua hal menyangkut keuangan, jangan sekali-kali mencampurkan aspek perasaan dalam pengambilan keputusan.

Begitu juga pada anak tangga yang kedua, jangan pernah berpikir atau merasa tidak cukup sehingga pengeluaran menjadi lebih besar dibandingkan dengan pemasukan. Betapapun kecilnya penghasilan saat ini, harus disikapi dengan makna cukup. Bahwa ingin meningkatkan penghasilan adalah suatu keharusan. Tetapi, delta peningkatan penghasilan mesti lebih besar ketimbang peningkatan pengeluaran.

Lepas dari itu, yang paling penting adalah tata cara peningkatan penghasilan itu. Lakukan dengan perencanaan keuangan yang memiliki norma-norma. Bukan karena ingin mendapatkan mobil Mercedes S-Class, kemudian ”melacurkan” prinsip atau memerkosa kaidah tata krama hidup. Hal yang sama juga berlaku dalam investasi. Jangan menggunakan ”kendaraan” investasi spekulatif untuk meningkatkan kekayaan karena hasilnya akan artifisial.

Prinsip kedua adalah memaknai uang itu sendiri. Seperti apa? Uang adalah sekadar sarana untuk memberikan manfaat. Tujuan mencari uang sebanyak-banyaknya bukanlah demi uang, tetapi bagaimana agar uang itu bisa memberikan nilai tambah dalam kehidupan si pemilik uang, keluarga, sanak saudara, orang lain, dan siapa pun seluas-luasnya.

Jadi, kalau uang yang dimiliki belum memberikan kenyamanan hidup, berarti ada yang keliru dalam menafsirkan peran uang. Dan, kekeliruan itulah yang mesti diperbaiki. Misalnya, dengan mendefinisikan kembali bagaimana mestinya cara mencari uang. Dalam 24 jam sehari, hidup bukan hanya untuk uang, tetapi ada hal-hal dan kegiatan lain yang mesti dilakukan agar tidak menjadi ”budak” uang.

Selanjutnya, setelah uang diperoleh, peruntukannya mesti jelas. Tanpa peruntukan yang jelas, makna keberadaan uang menjadi sirna. Kesimpulannya, jika Anda ingin merasakan ”hidup yang lebih hidup”, tujuan keuangan bukan sekadar pada tahap mencapai kemandirian finansial, melainkan juga menuju kesempurnaan finansial, di mana uang memberikan manfaat bagi si pemilik dan orang lain. Selamat mencoba.

Limbah Kayu Yogyakarta Mejeng di Eropa



Kecanggihan teknologi komunikasi kini menjadi sarana penting dalam dunia usaha. Transaksi bisnis berlangsung di depan layar kaca. Cara itu yang dijalani Gatot Mujiyana (44), pemilik usaha Amarta Furniture di Jalan Wates Km 3,5 Ngepreh RT 01 /30 No 69, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Ayah tiga anak ini nekat memilih keluar dari perusahaan furnitur tempatnya bekerja pada tahun 1994 dan berniat membuka usaha sendiri. Bekal pengalaman kerjanya itu yang membuatnya menjalani bisnis furnitur dan kerajinan tangan.

Alumnus Pascasarjana Universitas Islam Indonesia Yogyakarta itu lalu memanfaatkan jaringan internet untuk menjual produknya ke luar negeri. Itu dilakukan bukan karena pasar lokal tidak menjanjikan. Menurutnya, banyak negara di Eropa menyenangi hiasan atau furnitur yang terbuat dari kayu jati.

Yang menarik dari bisnis Ketua Umum Komunikasi Ketoprak Kabupaten Bantul (FKKKB) itu adalah pemanfaatan limbah kayu jati. "Saya memanfaatkan limbah kayu jati, seperti akar kayu jati yang dijadikan kursi, tiang lampu hias. tempat buah, bola, dan sebagainya," kata Gatot saat ditemui di kediamannya di Bantul, Yogyakarta, pekan lalu.

Modal awal Gatot hanya sekitar Rp 8 juta, yang digunakan untuk biaya merakit mesin pemotong. Harga barang buatannya yang dijualnya tergolong murah di pasaran luar negeri, namun kualitas tetap terjaga.

Dari bisnis itu, Gatot membawahi sekitar 300 tenaga pengrajin. Tetapi, enam tahun kemudian, bisnisnya ambruk. Pemicunya adalah bom Bali pada 2002. Kondisi itu tak membuat pria bertubuh tambun itu menghentikan produksinya. Hal itu yang, membuat usahanya perlahan bangkit hingga sekarang. Dalam sebulan, Gatot mengekspor tiga kontainer produk furniture dan kerajinan tangan yang senilai Rp 300 juta. "Profit yang saya peroleh minimal 25 persen," kata pria berjenggot itu.

Hampir semua produknya terpajang di Belgia, Jerman, Perancis, Inggris, dan Singapura, mulai dari rumah penduduk, perkantoran, sampai hotel berbintang.

Bisnis perkayuan juga dilakoni oleh Jumadi, pemilik Jatisae Handicraft Industries di Jalan Parangtritis Km 5, Bangunharjo, Bantul, Yogyakarta. Pria yang hanya lulusan STM jurusan pembangunan di Yogyakarta ini sukses memasarkan produk puzzle dari limbah kayu ke negara-negara di Eropa.

"Ada sekitar 156 model yang saya buat sejak tahun 1996 usaha ini dirintis. Sebagian besar model dari keinginan klien," kata Jumadi. Hanya saja, dia menjual produknya separuh ke luar negeri dan separuh lagi ke pasar lokal. Omsetnya saat ini sebesar Rp 75 juta per bulan.

Komitmen Delia, Gatot Mujiana, dan Jumadi dalam berbisnis hanya satu, yakni terus bersemangat dalam menjalani usaha. Sebab, dari semangat itu lah banyak jalan keluar diperoleh dalam perjalanan bisnisnya.

Omzet Rp 100 Juta dari Jus Mengkudu



Buah mengkudu yang banyak khasiat.
Bentuk buah mengkudu atau pace yang bopeng-bopeng memang tak menarik. Baunya pun sungguh tak sedap. Namun, sudah lama orang mengenal mengkudu sebagai buah berkhasiat mengobati berbagai penyakit, mulai penyakit ringan sampai penyakit berat macam kanker. Mengkudu juga dipercaya bisa membantu menurunkan berat badan.

Lantaran memiliki banyak khasiat itulah orang mengolah mengkudu menjadi berbagai produk, salah satunya adalah jus mengkudu. Usaha jus mengkudu terus bertumbuh seiring semakin banyaknya orang yang menyadari khasiat jus mengkudu.

Salah satu yang merasakan nikmatnya berbisnis jus mengkudu adalah Philipus P. Soekirno. Pengusaha yang berdiam di Jakarta ini menjual jus mengkudu merek Morinda.

Philipus terjun ke bisnis bisnis jus mengkudu setelah merasakan sendiri manfaat jus buah ini.

Pengusaha berusia 61 tahun ini pernah menderita gagal ginjal, lever bengkak, jantung koroner dan asam urat tinggi. Saat itu, harapan hidup Philipus sudah tipis. Atas saran keluarga, dia pun rajin mengonsumsi jus mengkudu. Hasilnya, penyakit Philipus berangsur sembuh. “Sekarang, saya hidup normal tanpa pantang makan apapun,” ujarnya.

Setelah sembuh, Philipus mempelajari cara mengolah mengkudu jadi minuman yang enak dikonsumsi. Buah mengkudu termasuk sulit diolah. Sebab, di atas buahnya terdapat lapisan lilin yang berbahaya. Apalagi buah ini memiliki banyak biji. “Untuk mengolah mengkudu butuh suhu ruangan kira-kira 10 derajat celcius agar tak banyak jamur dan bakteri yang berkembang,” ujarnya.

Setelah menguasai teknik pengolahan jus mengkudu, mulai 2007 Philipus memulai usahanya. Bermodal Rp 250 juta dari Kredit Usaha Rakyat (KUR), Philipus membeli peralatan mengolah mengkudu dan membuka outlet di Jakarta Pusat. Awalnya, dia hanya bisa mengolah 200 kg-500 kg mengkudu seminggu. Saat itu, omzetnya Rp 20 juta tiap bulannya.

Nyatanya bisnis Philipus berkembang pesat. Kini Philipus mampu mengolah 1 ton sampai 2 ton mengkudu per minggu. Dari situ, Philipus bisa mendapat omzet sekitar Rp 100 juta per bulan. “Penjualannya sangat bagus,” kata Philipus sumringah. Philipus mengaku bisa memperoleh margin 60 persen dari penjualan jus mengkudu.

Yuk, Ikut Global Entrepreneurs Week




Untuk kedua kalinya, British Council kembali mengajak para wirausaha muda Indonesia untuk mengikuti Global Entrepreneurs Week 2009 yang digelar secara serentak di seluruh dunia pada 16-22 November 2009. Indonesia sendiri menjadi salah satu dari 77 negara yang terlibat dan akan diselenggarakan di tiga tempat, Rasuna Epicentrum di Kuningan, Museum Bank Mandiri di Kota, dan Casa Grande Residence.

Global Entrepreneurs Week adalah pelatihan dan workshop bagi kaum muda yang ingin mengembangkan gagasan kreatifnya ke dalam kewirausahaan. Melalui GEW, British Council akan mendorong Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Indonesia di bidang kreatif, sosial, dan lingkungan hidup agar lebih inovatif dan mampu melakukan perencanaan bisnis.

“British Council mendukung Global Entrepreneurs Week ini, karena dapat membantu banyak wiraswasta keluar dari resesi global, hal ini terbukti mereka mampu keluar dari resesi global dan mampu mengembangkan solusi untuk daerah lokal,” ujar Country Director British Council Indonesia Keith Davies di , Jakarta, kemarin.

Media Relations Officer British Council Eka Wahyuni mengatakan, GEW akan menjadi ajang pertemuan kaum muda untuk berbagi gagasan baru dalam kewirausahaan. GEW akan menampilkan teknik-teknik presentasi dan berjejaring yang lebih kreatif dan efektif.
0 comments

Posted in , ,

Komunitas Djadoel, dari Hobi ke Bisnis



Dalam suatu mimpi, Yanuar Christianto (39) datang ke sebuah toko mainan. Secara fisik, bangunanya sama sekali tidak menarik. Berdebu dan kotor. Hal serupa juga tampak dari mainan yang dijual, layaknya dagangan yang tak kunjung laku.

Ketika mentari telah bersinar, tanpa menghiraukan mimpinya, ia berkeliling Jakarta dengan sepeda motornya. Arah mana yang ia tuju hasil dari bisikan hatinya. Berjalan dan terus berjalan, melewati Jalan Gajah Mada lalu ke Jalan Hayam Wuruk, dan terus menuju ke Utara. Sampai di suatu tempat, yang ia sendiri tidak tahu di mana, Yanuar kaget tak terkira. Saat ia memberhentikan motornya untuk istirahat, dan menoleh ke kiri, tampak olehnya toko mainan yang ada dalam mimpinya.

Masih dengan rasa tidak percaya, Yanuar mengayunkan langkah menuju toko tersebut. Belum sempat ia bersuara, matanya telah menangkap kardus lusuh berisi mainan-mainan. “Saya borong semuanya. Ini terjadi pada akhir tahun kemarin,” kata Yanuar, kolektor mainan, kepada Kompas.com dalam kesempatan Atraksi Kota Tua di Taman Fatahillah Jakarta, Minggu (15/11).

Yanuar adalah salah satu anggota Komunitas Djadoel, komunitas pencinta barang antik, yang berdiri pada Mei 2009. Ia mengaku laki-laki yang kesehariannya bekerja sebagai waitress di Kapal Pesiar berbendera Italia ini dari umur 5 tahun gemar mengumpulkan barang. Didukung pekerjaannya, koleksinya berasal dari banyak negara seperti Italia, Malta, Spanyol, Perancis, Inggris dan Jerman. “Kalau di jalan saya menemukan skrup atau baut, saya bawa pulang dan ditaruh dalam kotak korek api. Sampai banyak,” papar Yanuar.

Anggota komunitas lainnya, Muchlis Amir (57) juga mengumpulkan barang antik bermula dari hobi. Dari sekian banyak barang, ia memilih kalender untuk dikoleksi. Dalam perjalana waktu, kalender koleksinya yang mulai tahun 1940-1980 banyak dicari orang. "Mereka ingin tahu hari lahirnya kapan. Juga apakah bertepatan dengan hari besar (agama maupun nasional). Di kalender juga ada hari pasaranya,” ujar pensiunan pekerja swasta ini.

Lebih lanjut, anggota komunitas ini tidak sekadar mengumpulkan barang. Tetapi juga menjualnya, karena pasar untuk barang-barang antik cukup menjanjikan. Menurut Daniel Supriyono, Ketua Komunitas Djadoel, meski barang jadul, namun pemeblinya tidak hanya orang-orang berumur, tepai anak baru gede dan juga anak-anak kecil pun menjadi pasar. “Anak kecil suka pada mainan. ABG yang ingin bergaya jadul beli kaca mata berlensa gede. Sedangkan Kakek nenek (selain) nostalgia juga diberikan untuk cucunya untuk memperkenalkan barang pada zamannya” tutur Daniel yang juga wartawan Nova, kelompok Gramedia Majalah.

Baik Yanuar, Muchlis maupun Daniel sama-sama memahani jika sebagaian orang keberatan kalau barang antik mahal. Padahal hanya barang “bekas.” Menurut Daniel, mencari untung wajib hukumnya saat menjual barang koleksinya. Tapi perhitungan untung tersebut bukan sekadar nilai ekonomi tetapi perjuangan mendapatkannya dan nilai kesejarahannya. “Untung harus berlebih karena barangnya tidak selalu didapat. Mahal itu sebagai penghibur saat kami menyerahkan barang yang sulit didapat dan kami miliki,” tuturnya.

Orang-orang yang tergabung dalam komunitas Djadoel ini sebenarnya bisa dikatakan sudah mapan. Ada yang bekerja di perusahaan media, bengkel mobil, designer grafis dan ada juga di departemen keuangan. Selain itu tidak semua barang koleksi mereka dijual. "Laku syukur, gak ya gak apa-apa," ucap Daniel.

Masing-masing kolektor memilih barang tertentu untuk dikoleksi, seperti buku, iklan film, jam weker, (bungkus) rokok, kalender, mainan, fashion, perabotan rumah tangga, kacamat, kaset sampai ke aksesoris sepeda ontel. Kategori antik jika barang yang bersangkutan paling muda tahun 1980. Untuk harga, misalnya komik lokal Rp 20.000, gelas PRJ 1979 dihargai Rp 35.000, kacamata Rp 100.000 dan iklan film Rp 50.000. Adapun untuk mainan, sebagaimana dijual Yanuar mulai dari Rp 50.000 – Rp 200.000. “Yang saya koleksi sendiri, tahun 2007 saya beli mainan robot Jepang Rp 200.000. Setelah saya cek di internet ternyata sekarang harganya 1.000 dollar AS,” aku Yanuar.

Para kolektor ini tidak pernah menyangka hobinya mengumpulkan barang yang sebagian besar orang menganggapnya sampah ternyata memiliki nilai ekonomi. Lebih dari itu, ketekunan mereka membuat rantai sejarah bangsa terus turun dari generasi ke generasi. Setidaknya, mulai dari keluarga merekalah rantai itu diteruskan untuk memupuk rasa cinta dan bangga pada tanah air karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. “Anak saya, sering saya ajak ke museum dan galeri. Juga saya ajak untuk gemar membaca,” pungkas Yanuar.

0 comments

Posted in , ,

Jangan Salah... Waralaba Cendol Justru Paling Dilirik




Siapa di Tanah Air ini yang tak kenal dengan minuman cendol? Mulai dari ujung barat hingga timur Pulau Jawa, minuman ini menjadi ciri khas dengan cita rasanya masing-masing.

Sebut saja cendol alias dawet Banjarnegara, Ponorogo, hingga cendol Bandung. Tak ayal, minuman ini pun dikemas lebih eksklusif dan dibungkus menjadi sebuah bisnis yang menjanjikan. Tak lagi hanya dijual oleh pedagang keliling...

Penasaran? Inilah beberapa franchisor cendol yang menjadi idola di arena Franchise License Expo Indonesia, yang berlangsung di Jakarta Convention Centre, Jakarta, 13-15 November 2009.

Cendol Desa

Namanya boleh saja "Cendol Desa". Kemasan gerobaknya, sudah "Ngota ". Dengan warna dominan merah, usah franchise atau waralaba yang dirintis Tatang Kusdiana ini lumayan ramai disinggahi pengunjung. Untuk menjadi franchisee alias mitra, cukup menyediakan modal Rp 3,9 juta hingga Rp5,9 juta.

Tatang mengisahkan, bisnis ini sudah dirintisnya selama tiga tahun terakhir. Mengapa cendol? "Awalnya, saya berpikir bahwa tuntutan hidup semakin berat. Daripada hanya mengeluh, mending berpikir bagaimana merintis bisnis yang bisa menghasilkan sekalian memanfaatkan waktu yang masih ada, di samping waktu bekerja," kata Tatang, saat dijumpai Kompas.com di sela pameran, Sabtu ( 14/11 ), di JCC, Jakarta.

Alasan memilih cendol, sederhana saja. Bagi Tatang yang berasal dari Jawa Barat, minuman tradisional ini dipandangnya sebagai minuman yang sudah "mendarah daging" bagi masyarakat Indonesia. Maka, ia berpikir, mengembangkan bisnisnya pun tak akan terlampau susah.

"Potensi bisnis cendol, aman-aman saja ya. Orang sepertinya enggak pernah bosen minum cendol. Selain itu, untuk modal juga enggak terlalu mahal, jadi bisa mengajak banyak orang untuk berbisnis," kata Tatang, yang masih berprofesi sebagai pegawai BUMN ini.

Belajar mengolah cendol dari para pedagang jalanan, Tatang kemudian browsing hingga ke dunia maya demi menghasilkan cendol yang bercita rasa luar biasa. Kebetulan, istrinya juga bisa membuat cendol. "Sekarang, kata orang-orang, cendol saya khas Jawa Barat," ujarnya.

Pembagian royalti, Tatang tak mewajibkan mitranya untuk berbagi keuntungan per bulan. Para mitra hanya diwajibkan untuk mengambil produk dari franchisor untuk keseragaman rasa. "Keuntungan laba seluruhnya milik mitra," jelas Tatang.

Kontrak franchise berlaku selama tiga tahun dan dapat diperpanjang ketika kontrak habis. Saat ini, sudah terdapat 10 outlet "Cendol Desa" yang tersebar di kawasan Jakarta dan Bekasi. Bisnis ini, kini dijalankannya bersama sang istri dan lima orang karyawannya.

Cendol Idol

Selain "Cendol Desa", satu lagi franchise cendol yang juga diserbu pengunjung adalah "Cendol Idol". Yang menjadi franchisornya adalah PT Cocomas Indonesia, perusahaan yang bergerak di bisnis pengolahan kelapa.

Retail Bussiness Manager PT Cocomas Indonesia, Sapto Sri Asmoro mengatakan, franchise ini baru dijalankan perusahaannya sejak Agustus 2009 lalu. Hingga bulan November ini tak kurang dari 320 mitra sudah digaet dan tersebar di seluruh Tanah Air.

Apa kelebihan "Cendol Idol"? "Pada prinsipnya, kami ingin memudahkan mitra. Mulai dari peraturan hingga ke pengemasan outlet dan memberikan kesempatan berkreasi," kata Sapto.

Ia menceritakan, pihaknya mempersiapkan outlet yang easy taking . Artinya, outlet dikemas sedemikian rupa agar si mitra gampang untuk menentukan lokasi berjualan. Outlet tersebut bisa dilipat dan dikemas dalam sebuah tas berwarna hitam.

"Jadi, bisa jualan dimana saja. Kalau pakai gerobak itu kan harus pikir uang sewa lokasi, kemudian kalau membawanya pun perlu angkutan khusus. Kalau outlet kami cukup ditaruh di bagasi mobil, pilih tempat yang ramai," ujarnya.

Hingga akhir tahun 2010, mereka yang menjadi mitra "Cendol Idol" tidak wajib berbagi royalti. Selain itu, Cocomas juga menyediakan santan dan cendol bagi para mitra. "Jadi, ini memang bisnis dengan konsep tradisional yang dimodernisasi. Tapi, kita juga memberikan kesempatan mitra untuk mengembangkan produk dagangan. Misalnya, dikombinasi menjadi es campur atau cendol, sepanjang memakai produk kami," papar Sapto.

Modal awal untuk outlet cendol dipatok harga Rp 2,5 juta. Sedangkan untuk outlet es campur Rp 2,7 juta. Modal satu cup cendol sekitar Rp 3.650. Dengan modal itu, cendol dijual minimal Rp 5.000 per cup.

Mitra diberikan keleluasaan mematok harga di atas harga minimal, menyesuaikan dengan lokasi penjualan. Rasa yang ditawarkan cukup bervariasi, yaitu durian, pandan dan natural.

Berminat? Sebelum memutuskan, hendaknya jajaki dulu setiap franchise yang ada, berikut paket penawaran dan hitung-hitungan keuntungannya.

0 comments

Posted in , ,

Minat Bisnis Franchise? Ayo, Serbu Senayan!




Inggried Dwi W
Para pengunjung pada pameran Franchise License Expo Indonesia yang digelar di Assembly Hall, Jakarta Convention Centre, 13-15 Nov 2009. Disini para pengunjung bisa menjajaki berbagai peluang usaha waralaba, mulai dari makanan, minuman, hingga bisnis kecantikan.

Bisnis franchise alias waralaba semakin menggejala. Bisnis ini, jika ditekuni ternyata mendatangkan keuntungan yang tak sedikit. Anda berminat menjalankan bisnis ini?

Ada kesempatan emas untuk melakukan survei jenis bisnis apa yang memungkinkan untuk dirintis. Datang saja ke Franchise License Expo Indonesia di Assembly Hall, Jakarta Convention Center, Jakarta pada 13-15 November 2009 .

Pantauan Kompas.com, di hari kedua pameran, para pengunjung memadati gedung yang terdapat di kompleks Gelora Bung Karno itu. Syahrial, seorang warga Depok mengaku, tengah menjajaki bisnis ini.

"Saya masih status PNS, tapi tidak ada salahnya mulai merintis bisnis sendiri. Apalagi, daerah tempat tinggal saya, di Depok, lumayan berkembang. Jadi, bisa mengembangkan bisnis makanan," katanya.

Meski banyak aneka jenis franchise yang ditawarkan, Syahrial mengaku lebih tertarik berbisnis makanan. "Orang setiap hari kan makan, mbak. Jadi lebih pasti lakunya," ujar bapak tiga anak ini.

Di arena pameran tersebut, tak hanya berbagai franchisor makanan yang memberikan penawaran. Mulai dari usaha kecantikan, travel, laboratorium kesehatan, laundry, telepon seluler, hingga berbagai jenis minuman. Tertarik?

0 comments

Posted in , ,